Langsung ke konten utama

Teman

Erdy : Si Briliant yang Pemalu


Erdy Syifa’urrahman, ia terlahir di kota kecil yang damai dan tentram, Mojokerto. Sama seperti aku. tepatnya pada tanggal 7 februari 1992 ia telah menyuarakan tangisannya di dunia ini. Ia muslim yang taat. Semua orang tidak akan heran, karena memang dari kecil ia telah dididik dalam lingkungan pesantren. Mulai dari MI (Madrasah Ibtida’iyah) sampai MA (Madrasah Aliyah) ia sudah akrab dengan yang namanya kitab-kitab klasik ulama-ulama salaf . Dulu dia adalah teman sepondok, satu ruang kelas dan bahkan sekamar. Yang kukenal si Erdy ini, ilmu keagamaanya tak diragukan lagi. Keilmuannya dalam ilmu-ilmu social maupun eksakta pun sangatlah mumpuni. Terbukti ia sekarang menempuh studi di Universitas Gadjah Mada, di fakultas Psikologi dengan status penerima beasiswa penuh.

Selama bergaul dengannya aku sudah sadar kalau dia memang akan selalu lebih cerdas dari aku, terlebih dia lebih telaten dan hati-hati dengan apa yang dia miliki. Nah, yang terakhir ini sangatlah sulit aku tiru. Selama bertahun-tahun aku belajar untuk menjaga barang-barang milikku, tetap saja aku selalu teledor. Mungkin karakter “hati-hati” ini yang menjadi pembanding yang mencolok antara aku dan bang Erdy (panggilan akrabnya). Akan tetapi, sebenarnya sangat disayangkan. Sosok Erdy ini ternyata pemalu, malu dalam aktualisasi diri ataupun mengemukakan pendapat-pendapatnya yang brilian. Selain itu kecerdasannya itu seakan tak pernah ku gapai. Kemampuannya menghafal dan mengingat sesuatu memang jauh kalau disbanding dengan aku.

Terkadang terlintas dalam pikiranku seandainya ia mau sedikit lebih berani, tentu ia akan menjadi orang yang sangat dahsyat. Pikirannya yang tajam, terkadang sungguh disayangkan kalau tidak diutarakan.

Aku, seorang yang kurang cerdas ini, telah banyak belajar hal-hal positif darinya. Terutama tentang “Fokus berfikir” dan “hati-hati dalam menjaga barang”. Akan terus kupelajari walau terkadang memang sepertinya susah. Atau mungkin aku saja yang merasa begitu.

Akantetapi diluar itu semua, sebenernya dia cukup kocak. Beda dengan aku yang sedikit silent. Dia mempunyai moto hidup yang cukup unik, yakni “harta itu untuk dihabiskan, bukan untuk disimpan”.


neh,, foto-foto eksklusif bang Erdy :

Masa-masa di Pesantren dan Kampus



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Sukses Sido Muncul

Pendidikan tinggi dengan berbagai gelar memang tak menjadi jaminan bagi seseorang untuk menjadi manusia yang kaya raya. Hal ini telah dibuktikan oleh Irwan Hidayat direktur utama PT Sido Muncul. Pria yang dilahirkan dijogja ini mampu menjadikan pabrik jamunya menjadi pabrik jamu terbesar di Indonesia walaupun ia hanya lulusan SMA, dan itu pun setelah pindah sekolah sebanyak lima kali. Dia menyatakan bahwa dulunya ia adalah anak yang kurang berprestasi di sekolahnya. Dan ia juga bukan orang yang rapi dan mematuhi segala peraturan di sekolahnya. Bagaimana tidak wong buku saja cuma satu dan ulangan pun selalu ngerpek . Oleh karena itu, setelah ia lulus dari SMA ia sulit sekali mendapatkan pekerjaan. Pernah suatu ketika ia bekerja sebagai seles obat akan tetapi karena ia selalu bangun kesiangan pekerjaan itupun tidak bertahan lama. Setelah itu ia terpaksa bekerja di perusahaan jamu neneknya. Beberapa tahun berjalan akhirnya kursi kepemimpinan akhirnya di berikan kepada ibunya, Ibu Rahmat ...

This Is My Way : Berprestasi is the only choice

Seseorang tentu membutuhkan sebuah prestasi. Prestasi ini merupakan tingkatan ketiga dalam piramida kebutuhan Maslow. Aku tak mengerti kenapa sampai sekarang aku belum juga merasakan prestasi yang kuharapkan. Akan tetapi aku sadar bahwa sebenarnya yang kubutuhkan hanyalah motivasi lebih. Selama motivasi itu masih ada pada diriku, pasti aku bisa untuk mencapai segala yang aku inginkan.  Tahun demi tahun aku menjalani pendidikan dari mulai MI, MTs, MA, hingga sekarang kuliah. Prestasi yang kudapat cuman bisa dihitung oleh jari. Aku tak puas dengan itu. Seharusnya aku sebagai santri lebih berprestasi dari pada mereka yang bukan. Karena nilai-nilai agama ada dipundakku. Aku telah mendengan segala wejangan dari Rasulullah. Akan tetapi tetap saja aku belum mampu berprestasi. Mungkin satu yang aku butuhkan sekarang ini. Yaitu hasrat untuk menjadi juara. Tak hanya boleh puas dengan keadaan ku sekarang ini. Akhir-akhir ini aku merasa malu karena sudah beresikap layaknya anak kecil. Merengek...