Selama bergaul dengannya aku sudah sadar kalau dia memang akan selalu lebih cerdas dari aku, terlebih dia lebih telaten dan hati-hati dengan apa yang dia miliki. Nah, yang terakhir ini sangatlah sulit aku tiru. Selama bertahun-tahun aku belajar untuk menjaga barang-barang milikku, tetap saja aku selalu teledor. Mungkin karakter “hati-hati” ini yang menjadi pembanding yang mencolok antara aku dan bang Erdy (panggilan akrabnya). Akan tetapi, sebenarnya sangat disayangkan. Sosok Erdy ini ternyata pemalu, malu dalam aktualisasi diri ataupun mengemukakan pendapat-pendapatnya yang brilian. Selain itu kecerdasannya itu seakan tak pernah ku gapai. Kemampuannya menghafal dan mengingat sesuatu memang jauh kalau disbanding dengan aku.
Terkadang terlintas dalam pikiranku seandainya ia mau sedikit lebih berani, tentu ia akan menjadi orang yang sangat dahsyat. Pikirannya yang tajam, terkadang sungguh disayangkan kalau tidak diutarakan.
Aku, seorang yang kurang cerdas ini, telah banyak belajar hal-hal positif darinya. Terutama tentang “Fokus berfikir” dan “hati-hati dalam menjaga barang”. Akan terus kupelajari walau terkadang memang sepertinya susah. Atau mungkin aku saja yang merasa begitu.
Akantetapi diluar itu semua, sebenernya dia cukup kocak. Beda dengan aku yang sedikit silent. Dia mempunyai moto hidup yang cukup unik, yakni “harta itu untuk dihabiskan, bukan untuk disimpan”.
neh,, foto-foto eksklusif bang Erdy :
Masa-masa di Pesantren dan Kampus



Komentar