Langsung ke konten utama

Kisah Sukses Sido Muncul


Pendidikan tinggi dengan berbagai gelar memang tak menjadi jaminan bagi seseorang untuk menjadi manusia yang kaya raya. Hal ini telah dibuktikan oleh Irwan Hidayat direktur utama PT Sido Muncul. Pria yang dilahirkan dijogja ini mampu menjadikan pabrik jamunya menjadi pabrik jamu terbesar di Indonesia walaupun ia hanya lulusan SMA, dan itu pun setelah pindah sekolah sebanyak lima kali.

Dia menyatakan bahwa dulunya ia adalah anak yang kurang berprestasi di sekolahnya. Dan ia juga bukan orang yang rapi dan mematuhi segala peraturan di sekolahnya. Bagaimana tidak wong buku saja cuma satu dan ulangan pun selalu ngerpek. Oleh karena itu, setelah ia lulus dari SMA ia sulit sekali mendapatkan pekerjaan. Pernah suatu ketika ia bekerja sebagai seles obat akan tetapi karena ia selalu bangun kesiangan pekerjaan itupun tidak bertahan lama. Setelah itu ia terpaksa bekerja di perusahaan jamu neneknya.

Beberapa tahun berjalan akhirnya kursi kepemimpinan akhirnya di berikan kepada ibunya, Ibu Rahmat Sulistyo. Ketika kepemimpinan ibunya itu Irwan dipercaya menjadi direktur perusahaan. Akan tetapi walaupun menjadi seorang direktur, pengetahuanya tentang bisnis masih sangat minim. Dan beberapa tahun berjalan perusahaannya tidak mengalami peningkatan mutu yang berarti. Baru pada tahun 1990-an mulai muncul ide-ide cemerlang yang datang dari dirinya. Ia bersama saudara-saudaranya, yaitu Sofyan Hidayat, Johan Hidayat, Sandra Linata, dan David Hidayat, bersama-sama berjuang untuk memajukan perusahaanya tersebut.

Pada tahun, 1997 muncul ide gila darinya untuk mendirikan pabrik modern, padahal pada saat itu krisis sedang gencar-gencarnya terjadi di Indonesia. Hal ini tidak lain adalah untuk meningkatkan kepercayaan masyarat terhadap jamu yang diproduksinya. Setelah pabrik itu berdiri pada tahun 2000 PT Sido Muncul adalah satu-satunya perusahaan yang paling siap tempur setelah krisis. Akhirnya kesuksesan itu berlanjut sampai sekarang. Hingga saat ini perusahaan yang dibintangi oleh Chris john dan Mbah Marijan itu memiliki lebih dari 3500 karyawan dan delapan laboratorium modern untuk pengembangan produk. Kini Omzetnya sudah mencapai 40 juta sachet tolak angin dan 300 juta sachet kuku bima energi. Ini semua adalah berkat ketekunan dan kekompakan serta kenekatannya.

Komentar

saidokoro mengatakan…
iki tulisanmu asli, maksude gak plagiat alias njiplak mentah-mentah tekok tulisane wong liyo kan? lumayan wisan Bid, aku biyen durung patek isok nulis koyok awakmu ngene. terus tingkatkan! satu saranku, ketika kamu menulis, hayatilah tulisanmu sepenuh hati, jangan sampai kamu sendiri mengkhianati kata-kata yang kau tuliskan!
Kanjeng Abdillah mengatakan…
ini sudah cukup bagus akan tetapi masih perlu beberapa peningkatan
ion man mengatakan…
Pendidikan selalu di artikan dengan transformasi ilmu secara formal, masih ada pendidikan dlm masyarakat dan keluarga. Jadi tidak ada alasan untuk pesimis / minder bagi orang2 yang tidak mengenyam pendidikan formal. Setiap orang adalah guru bagi kita dan setiap tempat adalah sekolah buat kita...
Aan mengatakan…
boleh juga

Postingan populer dari blog ini

Teman

Erdy : Si Briliant yang Pemalu Erdy Syifa’urrahman , ia terlahir di kota kecil yang damai dan tentram, Mojokerto. Sama seperti aku. tepatnya pada tanggal 7 februari 1992 ia telah menyuarakan tangisannya di dunia ini. Ia muslim yang taat. Semua orang tidak akan heran, karena memang dari kecil ia telah dididik dalam lingkungan pesantren. Mulai dari MI (Madrasah Ibtida’iyah) sampai MA (Madrasah Aliyah) ia sudah akrab dengan yang namanya kitab-kitab klasik ulama-ulama salaf . Dulu dia adalah teman sepondok, satu ruang kelas dan bahkan sekamar. Yang kukenal si Erdy ini, ilmu keagamaanya tak diragukan lagi. Keilmuannya dalam ilmu-ilmu social maupun eksakta pun sangatlah mumpuni. Terbukti ia sekarang menempuh studi di Universitas Gadjah Mada, di fakultas Psikologi dengan status penerima beasiswa penuh. Selama bergaul dengannya aku sudah sadar kalau dia memang akan selalu lebih cerdas dari aku, terlebih dia lebih telaten dan hati-hati dengan apa yang dia miliki. Nah, yang terakhir ini ...

This Is My Way : Berprestasi is the only choice

Seseorang tentu membutuhkan sebuah prestasi. Prestasi ini merupakan tingkatan ketiga dalam piramida kebutuhan Maslow. Aku tak mengerti kenapa sampai sekarang aku belum juga merasakan prestasi yang kuharapkan. Akan tetapi aku sadar bahwa sebenarnya yang kubutuhkan hanyalah motivasi lebih. Selama motivasi itu masih ada pada diriku, pasti aku bisa untuk mencapai segala yang aku inginkan.  Tahun demi tahun aku menjalani pendidikan dari mulai MI, MTs, MA, hingga sekarang kuliah. Prestasi yang kudapat cuman bisa dihitung oleh jari. Aku tak puas dengan itu. Seharusnya aku sebagai santri lebih berprestasi dari pada mereka yang bukan. Karena nilai-nilai agama ada dipundakku. Aku telah mendengan segala wejangan dari Rasulullah. Akan tetapi tetap saja aku belum mampu berprestasi. Mungkin satu yang aku butuhkan sekarang ini. Yaitu hasrat untuk menjadi juara. Tak hanya boleh puas dengan keadaan ku sekarang ini. Akhir-akhir ini aku merasa malu karena sudah beresikap layaknya anak kecil. Merengek...