Langsung ke konten utama

Keadilan Hanya Untukmu, Oh Koruptor !


“ Artalyta Suryani atau akrab dipanggil Ayin, terpidana kasus suap kepada jaksa Urip Tri Gunawan adalah symbol dari sebuah perlakuan istimewa koruptor oleh Negara”

Demikianlah tulis Adnan Topan Husodo, Wakil Koordinator ICW, dalam harian Kompas, 29 Januari 2011. Tulisan Adnan dalam Harian Kompas ini mengindikasikan keraguan public terhadap keadilan yang diberikan oleh perangkat hokum Negara. Jika dilihat lebih dalam, memang setiap kasus korupsi nantinya akan direspon dengan perlakuan yang istimewa, yakni perlakuan yang memudahkan dan memfasilitasi segala kebutuhan koruptor. Hal ini bisa kita lihat dalam dua kasus yang akhir-akhir ini santer dibicarakan, yakni kasus Gayus Tambunan dan Artalyta Suryani.

Seakan-akan dewi fortuna selalu menaungi mereka berdua, Gayus Tambunan selalu bebas keluar masuk tahanan untuk sekedar refreshing atau bahkan jalan-jalan. Sedangkan Artalyta seringkali mendapatkan remisi hukuman dan penjara yang setara dengan hotel berbintang. Bak mendapatkan keberuntungan yang beruntun, Artalyta sekarang malah mendapatkan kebebasan setelah “hanya” menjalani dua per tiga masa tahanannya saja. Apalagi kebebasannya itu didasarkan atas kelakuan yang baik selama masa penahanan. Suatu hal yang sangat subyektif karena memberi uang kepada petugas LP pun bisa dibilang “kelakuan yang baik”.

Memang sangat miris kalau dibahas lebih lanjut. Fenomena koruptor sekarang sudah seperti fenomena artis saja. Semakin besar korupsinya maka dia akan semakin tenar. Akan tetapi, hukuman yang diberikan padanya tidak setimpal dengan apa yang telah dilakukan. Walaupun sebenarnya Negara tahu bahwa kini telah rugi trilyunan rupiah.

Keadilan di Indonesia memang masih dipertanyakan. Logika sederhananya, untuk mengadili kejahatan yang luar biasa seharusnya dengan hukuman yang luar biasa pula, jangan samapai malah direspon dengan perlakuan yang luar biasa istimewa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teman

Erdy : Si Briliant yang Pemalu Erdy Syifa’urrahman , ia terlahir di kota kecil yang damai dan tentram, Mojokerto. Sama seperti aku. tepatnya pada tanggal 7 februari 1992 ia telah menyuarakan tangisannya di dunia ini. Ia muslim yang taat. Semua orang tidak akan heran, karena memang dari kecil ia telah dididik dalam lingkungan pesantren. Mulai dari MI (Madrasah Ibtida’iyah) sampai MA (Madrasah Aliyah) ia sudah akrab dengan yang namanya kitab-kitab klasik ulama-ulama salaf . Dulu dia adalah teman sepondok, satu ruang kelas dan bahkan sekamar. Yang kukenal si Erdy ini, ilmu keagamaanya tak diragukan lagi. Keilmuannya dalam ilmu-ilmu social maupun eksakta pun sangatlah mumpuni. Terbukti ia sekarang menempuh studi di Universitas Gadjah Mada, di fakultas Psikologi dengan status penerima beasiswa penuh. Selama bergaul dengannya aku sudah sadar kalau dia memang akan selalu lebih cerdas dari aku, terlebih dia lebih telaten dan hati-hati dengan apa yang dia miliki. Nah, yang terakhir ini ...

Kisah Sukses Sido Muncul

Pendidikan tinggi dengan berbagai gelar memang tak menjadi jaminan bagi seseorang untuk menjadi manusia yang kaya raya. Hal ini telah dibuktikan oleh Irwan Hidayat direktur utama PT Sido Muncul. Pria yang dilahirkan dijogja ini mampu menjadikan pabrik jamunya menjadi pabrik jamu terbesar di Indonesia walaupun ia hanya lulusan SMA, dan itu pun setelah pindah sekolah sebanyak lima kali. Dia menyatakan bahwa dulunya ia adalah anak yang kurang berprestasi di sekolahnya. Dan ia juga bukan orang yang rapi dan mematuhi segala peraturan di sekolahnya. Bagaimana tidak wong buku saja cuma satu dan ulangan pun selalu ngerpek . Oleh karena itu, setelah ia lulus dari SMA ia sulit sekali mendapatkan pekerjaan. Pernah suatu ketika ia bekerja sebagai seles obat akan tetapi karena ia selalu bangun kesiangan pekerjaan itupun tidak bertahan lama. Setelah itu ia terpaksa bekerja di perusahaan jamu neneknya. Beberapa tahun berjalan akhirnya kursi kepemimpinan akhirnya di berikan kepada ibunya, Ibu Rahmat ...

This Is My Way : Berprestasi is the only choice

Seseorang tentu membutuhkan sebuah prestasi. Prestasi ini merupakan tingkatan ketiga dalam piramida kebutuhan Maslow. Aku tak mengerti kenapa sampai sekarang aku belum juga merasakan prestasi yang kuharapkan. Akan tetapi aku sadar bahwa sebenarnya yang kubutuhkan hanyalah motivasi lebih. Selama motivasi itu masih ada pada diriku, pasti aku bisa untuk mencapai segala yang aku inginkan.  Tahun demi tahun aku menjalani pendidikan dari mulai MI, MTs, MA, hingga sekarang kuliah. Prestasi yang kudapat cuman bisa dihitung oleh jari. Aku tak puas dengan itu. Seharusnya aku sebagai santri lebih berprestasi dari pada mereka yang bukan. Karena nilai-nilai agama ada dipundakku. Aku telah mendengan segala wejangan dari Rasulullah. Akan tetapi tetap saja aku belum mampu berprestasi. Mungkin satu yang aku butuhkan sekarang ini. Yaitu hasrat untuk menjadi juara. Tak hanya boleh puas dengan keadaan ku sekarang ini. Akhir-akhir ini aku merasa malu karena sudah beresikap layaknya anak kecil. Merengek...