Langsung ke konten utama

Keislaman Moderat dalam Konteks Keindonesiaan



"Islam merupakan agama yang dianut oleh mayoritas penduduk di Indonesia. Mungkin hanya di daerah-daerah terpencil saja, Islam tidak menjadi mayoritas. Akan tetapi apakah dengan begitu saja para muslim ini bias menjadikan Indonesia Negara untuk dirinya sendiri, dan mengabaikan hak-hak golongan atau kelompok lain yang sebenarnya juga mempunyai hak atas Negara ini ?. Tentu tidak. Apa gunanya suatu golongan yang besar apabila tidak untuk mengayomi dan melindungi golongan yang kecil ?"

Kita tentu tahu bahwa sebenarnya Negara ini lahir tidak hanya karena kaum Muslimin saja, akan tetapi juga atas jasa bangsa dan kaum lain. Indonesia merupakan hasil kerja keras bersama bangsa ini, dari berbagai suku, ras, dan kepercayaan. Sudah selayaknya Indonesia menjadi milik semua golongan dan lapisan bangsa. Jangan sampai kita sebagai warga Negara bertempur satu sama lain, karena adanya perbedaan.

Oleh karena itu, kaum muslimin di Indonesia dituntut untuk mengerti keadaan bangsa ini. Dan untuk itu sebaiknya dikembangkan cara ber-Islam yang moderat dan dalam konteks ke-Indonesia-an. Yaitu suatu konsep ke-Islaman-an yang mampu hidup dengan berbagai kalangan, agama, kepercayaan, suku, ras maupun zaman. Jangan sampai Islam terus-terusan bertabrakan dengan budaya yang ada. Kaum Muslimin sebagai salah satu subjek dan pelaku berbangsa dan bernegara di Indonesia tetap harus bertoleransi terhadap adanya perbedaan budaya dan kepercayaan. Karena kalau tidak begitu, tentu Islam tak akan bias hidup di Indonesia.

Akhir-akhir ini sudah mulai banyak persepsi masyarakat yang menyatakan bahwa Islam adalah Arab. Hal ini sebenarnya sangat disayangkan karena arabisasi, yakni mengedepankan wajah islam secara Arabistik, malah akan semakin memperkeruh suasana kebangsaan kita. Karena nantinya akan dikhawatirkan adanya benturan antara tradisi arab yang diidentikkan dengan Islam dan tradisi Indonesia. Dan ini tentu akan memporak-porandakan kesatuan kita sebagai bangsa serta memunculkan permasalahan sosial yang lebih pelik. Arabisasi juga bukan respon yang tepat ketika dating globalisasi.

Untuk itu, diperlukan suatu jalan alternative untuk menyatukan kaum muslim dan non muslim. Sehingga mereka bias berjalan beriringan tanpa ada ketegangan di antara mereka. Salah satu alternative yang diberikan adalah konsep Pribumisasi Islam. Pribumisasi Islam ini merupakan tindakan yang tepat dalam merespons kehadiran globalisasi dan keberagaman bangsa Indonesia. Konsepnya, pribumisasi islam menghendaki islam dan kebudayaan saling melakukan adaptasi dan akulturasi, tetapi tanpa kehilangan identitas diri masing-masing. Pribumisasi islam ini telah dicontohkan oleh para tokoh walisongo. Mereka menghadirkan keislaman yang indah di tengah kebudayaan Indonesia dengan memasukkan substansi-substansi islam dalam kebudayaan yang ada dalam masyarakat. Mereka semua tetap melestarikan budaya local akan tetapi tetap saja islam tidak boleh kehilangan identitasnya.

Selain itu juga perlu adanya peneguhan tiga model ukhuwah, yakni Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), Ukhuwah Wathoniyah (persaudaraan kebansaan), dan Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan kemanusiaan). Dengan begini diharapkan nantinya kaum muslim Indonesia mau bergaul dan bersaudara dengan seluruh bangsa tanpa memandang perbedaan yang ada. Sehingga nantinya keislaman moderat dalam konteks keindonesiaan akan lahir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teman

Erdy : Si Briliant yang Pemalu Erdy Syifa’urrahman , ia terlahir di kota kecil yang damai dan tentram, Mojokerto. Sama seperti aku. tepatnya pada tanggal 7 februari 1992 ia telah menyuarakan tangisannya di dunia ini. Ia muslim yang taat. Semua orang tidak akan heran, karena memang dari kecil ia telah dididik dalam lingkungan pesantren. Mulai dari MI (Madrasah Ibtida’iyah) sampai MA (Madrasah Aliyah) ia sudah akrab dengan yang namanya kitab-kitab klasik ulama-ulama salaf . Dulu dia adalah teman sepondok, satu ruang kelas dan bahkan sekamar. Yang kukenal si Erdy ini, ilmu keagamaanya tak diragukan lagi. Keilmuannya dalam ilmu-ilmu social maupun eksakta pun sangatlah mumpuni. Terbukti ia sekarang menempuh studi di Universitas Gadjah Mada, di fakultas Psikologi dengan status penerima beasiswa penuh. Selama bergaul dengannya aku sudah sadar kalau dia memang akan selalu lebih cerdas dari aku, terlebih dia lebih telaten dan hati-hati dengan apa yang dia miliki. Nah, yang terakhir ini ...

Kisah Sukses Sido Muncul

Pendidikan tinggi dengan berbagai gelar memang tak menjadi jaminan bagi seseorang untuk menjadi manusia yang kaya raya. Hal ini telah dibuktikan oleh Irwan Hidayat direktur utama PT Sido Muncul. Pria yang dilahirkan dijogja ini mampu menjadikan pabrik jamunya menjadi pabrik jamu terbesar di Indonesia walaupun ia hanya lulusan SMA, dan itu pun setelah pindah sekolah sebanyak lima kali. Dia menyatakan bahwa dulunya ia adalah anak yang kurang berprestasi di sekolahnya. Dan ia juga bukan orang yang rapi dan mematuhi segala peraturan di sekolahnya. Bagaimana tidak wong buku saja cuma satu dan ulangan pun selalu ngerpek . Oleh karena itu, setelah ia lulus dari SMA ia sulit sekali mendapatkan pekerjaan. Pernah suatu ketika ia bekerja sebagai seles obat akan tetapi karena ia selalu bangun kesiangan pekerjaan itupun tidak bertahan lama. Setelah itu ia terpaksa bekerja di perusahaan jamu neneknya. Beberapa tahun berjalan akhirnya kursi kepemimpinan akhirnya di berikan kepada ibunya, Ibu Rahmat ...

This Is My Way : Berprestasi is the only choice

Seseorang tentu membutuhkan sebuah prestasi. Prestasi ini merupakan tingkatan ketiga dalam piramida kebutuhan Maslow. Aku tak mengerti kenapa sampai sekarang aku belum juga merasakan prestasi yang kuharapkan. Akan tetapi aku sadar bahwa sebenarnya yang kubutuhkan hanyalah motivasi lebih. Selama motivasi itu masih ada pada diriku, pasti aku bisa untuk mencapai segala yang aku inginkan.  Tahun demi tahun aku menjalani pendidikan dari mulai MI, MTs, MA, hingga sekarang kuliah. Prestasi yang kudapat cuman bisa dihitung oleh jari. Aku tak puas dengan itu. Seharusnya aku sebagai santri lebih berprestasi dari pada mereka yang bukan. Karena nilai-nilai agama ada dipundakku. Aku telah mendengan segala wejangan dari Rasulullah. Akan tetapi tetap saja aku belum mampu berprestasi. Mungkin satu yang aku butuhkan sekarang ini. Yaitu hasrat untuk menjadi juara. Tak hanya boleh puas dengan keadaan ku sekarang ini. Akhir-akhir ini aku merasa malu karena sudah beresikap layaknya anak kecil. Merengek...