Langsung ke konten utama

Kekeringan Melanda, Kenapa Kita Diam Saja ?



“Kita tidak hanya membutuhkan niatan baik saja. Niatan baik belum tentu memberikan dampak yang baik pula, bahkan terkadang niatan baik itu bisa saja menjadikan dosa di diri kita. Jadi, seharusnya yang kita berikan adalah tindak lanjut dari niatan baik itu, dan bukan niatan baik (saja)”



           Akhir-akhir ini, saya melihat para petani kita sedang menderita karena kemarau yang tidak kunjung-kunjung berlalu. Kekeringan terjadi dimana-mana. Infrastruktur yang buruk untuk irigrasi sawah menjadikan kondisi semakin memburuk. Dengan kondisi seperti ini banyak petani kita yang kehilangan sumber penghidupan, karena sawah mereka sudah berhenti berproduksi. Lalu apakah kita akan diam saja ?

            Di daerah Wonogiri dan juga Gunung Kidul, saya melihat banyak sekali sawah yang tidak teraliri air. Padahal kebanyakan di daerah sana kebanyakan adalah petani padi, yang tentu membutuhkan banyak pasokan air. Kekeringan yang melanda ini tentu tidak boleh terus-menerus terjadi. Perlu ada suatu ide untuk melakukan irigasi tanpa hanya mengandalkan air hujan saja. Ide ini bisa saja berbentuk suatu inovasi teknologi tepat guna ataupun perubahan kebijakan yang signifikan dalam masalah irigasi ini.


            Terlepas dari apa yang nantinya kita lakukan, sebaiknya, kita memang bergerak cepat untuk menyelasaikan masalah ini. Jangan sampai berlarut-larut. Perlu suatu tindakan konkrit untuk menolong petani-petani kita.


            Karena hal itu, terkadang di otak saya terkadang sekilas muncul suatu inisiatif untuk merencanakan sebuah teknologi tepat guna yang digunakan untuk irigasi persawahan. Namun sampai sekarang masih saja belum menemukan suatu ide yang benar-benar bisa dimanfaatkan. Setiap hari pikiran saya kemana-mana, dan kadang memunculkan ide yang aneh-aneh. Seperti pengen buat alat pompa air dengan menggunakan pedal sepeda sampai mesin diesel yang bertenagakan kincir angin. Kadang-kadang saya juga berkhayal. Bagaimana seandainya di daerah-daerah kering ini nantinya tiba-tiba bisa muncul sumur arthesis sehingga petani-petani tidak bingung lagi mencari air.


            Supaya fokus, maka seharusnya memang kita tiap harinya merencanakan suatu ide tentang teknologi irigasi ini. Entah, nanti jadinya seperti apa, namun memang sudah menjadi kewajiban saya untuk berusaha. I’II never intend to thinking only, but I’II always make a great effort to do what I think.


            Selanjutnya, dalam 2 minggu ke depan, semoga aku bisa mendapatkan ide itu. Amin…


           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teman

Erdy : Si Briliant yang Pemalu Erdy Syifa’urrahman , ia terlahir di kota kecil yang damai dan tentram, Mojokerto. Sama seperti aku. tepatnya pada tanggal 7 februari 1992 ia telah menyuarakan tangisannya di dunia ini. Ia muslim yang taat. Semua orang tidak akan heran, karena memang dari kecil ia telah dididik dalam lingkungan pesantren. Mulai dari MI (Madrasah Ibtida’iyah) sampai MA (Madrasah Aliyah) ia sudah akrab dengan yang namanya kitab-kitab klasik ulama-ulama salaf . Dulu dia adalah teman sepondok, satu ruang kelas dan bahkan sekamar. Yang kukenal si Erdy ini, ilmu keagamaanya tak diragukan lagi. Keilmuannya dalam ilmu-ilmu social maupun eksakta pun sangatlah mumpuni. Terbukti ia sekarang menempuh studi di Universitas Gadjah Mada, di fakultas Psikologi dengan status penerima beasiswa penuh. Selama bergaul dengannya aku sudah sadar kalau dia memang akan selalu lebih cerdas dari aku, terlebih dia lebih telaten dan hati-hati dengan apa yang dia miliki. Nah, yang terakhir ini ...

Kisah Sukses Sido Muncul

Pendidikan tinggi dengan berbagai gelar memang tak menjadi jaminan bagi seseorang untuk menjadi manusia yang kaya raya. Hal ini telah dibuktikan oleh Irwan Hidayat direktur utama PT Sido Muncul. Pria yang dilahirkan dijogja ini mampu menjadikan pabrik jamunya menjadi pabrik jamu terbesar di Indonesia walaupun ia hanya lulusan SMA, dan itu pun setelah pindah sekolah sebanyak lima kali. Dia menyatakan bahwa dulunya ia adalah anak yang kurang berprestasi di sekolahnya. Dan ia juga bukan orang yang rapi dan mematuhi segala peraturan di sekolahnya. Bagaimana tidak wong buku saja cuma satu dan ulangan pun selalu ngerpek . Oleh karena itu, setelah ia lulus dari SMA ia sulit sekali mendapatkan pekerjaan. Pernah suatu ketika ia bekerja sebagai seles obat akan tetapi karena ia selalu bangun kesiangan pekerjaan itupun tidak bertahan lama. Setelah itu ia terpaksa bekerja di perusahaan jamu neneknya. Beberapa tahun berjalan akhirnya kursi kepemimpinan akhirnya di berikan kepada ibunya, Ibu Rahmat ...

This Is My Way : Berprestasi is the only choice

Seseorang tentu membutuhkan sebuah prestasi. Prestasi ini merupakan tingkatan ketiga dalam piramida kebutuhan Maslow. Aku tak mengerti kenapa sampai sekarang aku belum juga merasakan prestasi yang kuharapkan. Akan tetapi aku sadar bahwa sebenarnya yang kubutuhkan hanyalah motivasi lebih. Selama motivasi itu masih ada pada diriku, pasti aku bisa untuk mencapai segala yang aku inginkan.  Tahun demi tahun aku menjalani pendidikan dari mulai MI, MTs, MA, hingga sekarang kuliah. Prestasi yang kudapat cuman bisa dihitung oleh jari. Aku tak puas dengan itu. Seharusnya aku sebagai santri lebih berprestasi dari pada mereka yang bukan. Karena nilai-nilai agama ada dipundakku. Aku telah mendengan segala wejangan dari Rasulullah. Akan tetapi tetap saja aku belum mampu berprestasi. Mungkin satu yang aku butuhkan sekarang ini. Yaitu hasrat untuk menjadi juara. Tak hanya boleh puas dengan keadaan ku sekarang ini. Akhir-akhir ini aku merasa malu karena sudah beresikap layaknya anak kecil. Merengek...