Langsung ke konten utama

Pertanian : Emas Yang Ditinggalkan


Bagaikan pribahasa simalakama, petani Indonesia sekarang ini selalu saja dihadapkan dalam pilihan yang sulit. Antara tetap konsisten di dunia pertanian tapi juga harus tetap konsisten miskin atau pergi saja ke sektor lain dan membiarkan bangsa ini kelaparan karena tak ada lagi yang menanam bahan pangan untuk mereka.

Sektor pertanian yang merupakan penyedot tenaga kerja terbanyak di Indonesia, terkadang dijadikan sebagai pilihan kedua setelah sektor Industri. Alasannya karena memang Industri lah yang bisa menyumbangkan lebih banyak devisa bagi negara. Pengembangan Industri ini memang sangat dibutuhkan dalam upaya pembangunan negara, akan tetapi apakah kemudian kita bisa begitu saja melupakan nasib petani-petani ?. Tentu tidak, pertanian sebenarnya juga merupakan sektor yang kuat nan maha dahsyat untuk menyokong perkonomian suatu negara. Lihat saja, ketika terjadi terpaan krisis moneter besar-besaran, berbagai sektor selain sektor pertanian, termasuk sektor Industri, semuanya kolaps akan tetapi sektor pertanian tetap konsisten.

Kebijakan-kebijakan pemerintah yang mengizinkan dilakukannya liberalisasi industri diseluruh penjuru Indonesia menjadikan sektor pertanian semakin dilupakan. Apakah mereka ingin nantinya anak cucu kita hanya mewarisi limbah dan asap dari industri-industri itu ?. Industri-industri itulah yang mengeksploitasi habis-habisan SDA kita. Sekarang ini industri ada dimana-mana dan persebarannya terus saja meluas. Jika terus berlanjut, maka tak akan ada hal lain lagi yang bisa kita wariskan kepada anak cucu kita selain limbah dari industri itu.

Pada dasarnya, industri juga perlu dikembangkan. Akan tetapi bukan berarti secara terus-terusan dilakukan sehingga nantinya dijadikan sebagai tulang punggung perekonomian negara. Karena sebenarnya industri bukanlah jiwa Indonesia. Ketika dilakukan pengembangan industri secara besar-besaran tentu semakin besar pula ketergantungan kita terhadap pihak luar negeri. Industri tentu memerlukan mesin-mesin dan juga peralatan-peralatan lainnya. Dimanakah barang-barang itu didapatkan ? tentu dari luar negeri. Hali ini selajutnya akan memicu pemborosan devisa karena terlalu banyak mengimpor lalu terjadilah High Cost Economy. Kalau begitu bukankah hal ini akan semakin memiskinkan negara yang gemah ripah loh jinawai ini. Belum lagi ketika ada hempasan badai krisis yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Ketika industri ini kolaps maka tak ada lagi yang menopang. Hal ini nantinya akan mengakibatkan kekacauan sosial karena penopang perekonomian bangsa sudah tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan.

Penopang perekonomian bangsa Indonesia haruslah selalu kuat dan konsisten terhadap berbagai terpaan krisis agar nantinya apabila krisis ini terjadi maka dia bisa terus menopang perekonomian negara. Dalan konteks ke Indonesiaan, sektor yang paling cocok adalah pertanian.
Pertanian sebaiknya dijadikan landasan dasar dan penopang sedangkan industri adalah sebagai sektor yang mendukung sektor pertanian. Karena pertanianlah tempat 40% warga negara kita ini mengadu nasib dan pertanianlah sektor yang paling memungkinkan bagi Indonesia untuk bisa bersaing dalam persaingan global kelak sedangkan hasil dari sektor industri hanya kan dimakan sebagian orang dan dalam persaingan global tentu akan kalah karena Indonesia belum mempunyai teknologi yang mumpuni...

Nah, sebenarnya sudah saatnya Indonesia ini lebih realistis dalam menghadapi hempasan dahsyat dari persaingan global nantinya. Dan perlu disadari pula, bahwa pertanian sebenarnya adalah emas. Tapi karena kebutaan, emas yang indah ini tak pernah lagi dihargai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fenomena Ketika Kita Melihat

Inilah kuasa Tuhan Yang Maha Esa, semuanya yang ada di Alam ini sebenarnya dapat diterangkan secara ilmiah. Akan tetapi sayangnya manusia kurang mau berpikir. Manusia hanya mampu, maksimal, menggunakan otaknya sekitar 5 % dari kapasitas otak yang sesungguhnya. Seperti hal yang satu ini, pernahkah anda terfikir untuk membahas fenomena yang terjadi ketika kita melihat berbagai macam indah warna yang ada di dunia ini ?. Kalau anda mau memikirkannya sebenarnya ada peristiwa yang sangat menarik disini. semua bermula dari gelombang cahaya. Sebenarnya, kita bisa melihat karena adanya spektrum cahaya tampak yang masuk kemata dan ditangkap oleh sel kerucut dan sel batang yang ada dimata kita. Misalnya saja benda yang berwarna putih. Benda yang berwarna putih dapat kita lihat karena benda tersebut dapat memantulkan seluruh spektrum cahaya tampak yang mengenainya. Dan sebaliknya yang terjadi pada benda hitam, benda hitam sama sekali tidak memantulkan spektrum cahaya tampak yang mengenainya. adapu...

Teman

Erdy : Si Briliant yang Pemalu Erdy Syifa’urrahman , ia terlahir di kota kecil yang damai dan tentram, Mojokerto. Sama seperti aku. tepatnya pada tanggal 7 februari 1992 ia telah menyuarakan tangisannya di dunia ini. Ia muslim yang taat. Semua orang tidak akan heran, karena memang dari kecil ia telah dididik dalam lingkungan pesantren. Mulai dari MI (Madrasah Ibtida’iyah) sampai MA (Madrasah Aliyah) ia sudah akrab dengan yang namanya kitab-kitab klasik ulama-ulama salaf . Dulu dia adalah teman sepondok, satu ruang kelas dan bahkan sekamar. Yang kukenal si Erdy ini, ilmu keagamaanya tak diragukan lagi. Keilmuannya dalam ilmu-ilmu social maupun eksakta pun sangatlah mumpuni. Terbukti ia sekarang menempuh studi di Universitas Gadjah Mada, di fakultas Psikologi dengan status penerima beasiswa penuh. Selama bergaul dengannya aku sudah sadar kalau dia memang akan selalu lebih cerdas dari aku, terlebih dia lebih telaten dan hati-hati dengan apa yang dia miliki. Nah, yang terakhir ini ...

Kekeringan Melanda, Kenapa Kita Diam Saja ?

“Kita tidak hanya membutuhkan niatan baik saja. Niatan baik belum tentu memberikan dampak yang baik pula, bahkan terkadang niatan baik itu bisa saja menjadikan dosa di diri kita. Jadi, seharusnya yang kita berikan adalah tindak lanjut dari niatan baik itu, dan bukan niatan baik (saja)”            Akhir-akhir ini, saya melihat para petani kita sedang menderita karena kemarau yang tidak kunjung-kunjung berlalu. Kekeringan terjadi dimana-mana. Infrastruktur yang buruk untuk irigrasi sawah menjadikan kondisi semakin memburuk. Dengan kondisi seperti ini banyak petani kita yang kehilangan sumber penghidupan, karena sawah mereka sudah berhenti berproduksi. Lalu apakah kita akan diam saja ?             Di daerah Wonogiri dan juga Gunung Kidul, saya melihat banyak sekali sawah yang tidak teraliri air. Padahal kebanyakan di daerah sana kebanyakan adalah petani padi, yang tentu me...