Langsung ke konten utama

Jihad Nasioanalistik : Manifestasi Nasionalisme Ala Pesantren


Sejarah jihad pesantren adalah sejarah nasionalisme dan egaliterianisme. Pesantren sebagai wadah pendidikan para santri pun muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap pendidikan Belanda yang sangat diskrimatif. Lembaga ini telah memberikan pencerahan dalam kegelapan di tengah imprealisme Belanda dan Jepang dengan semangat perjuangan perebutan kemerdekaan dari para kolonialis.
Dalam perjalanan sejarah bangsa ini, Belanda benar-benar telah memecah belah kesatuan perjuangan bangsa dalam perebutan kemerdekaan. Pembedaan kasta pendidikan dengan  pengadaan sekolah untuk orang priyayi, yaitu HIS (Hollands-Inlanse School), dan untuk rakyat jelata Volkschool atau sekolah rakyat, adalah salah satu contoh kecil usaha Belanda dalam memecah bangsa. Beranjak dari realitas yang menyakitkan inilah pesantren lahir, melawan segala ketidakadilan yang dilakukan oleh penjajah,  mengajarkan toleransi atas perbedaan, dan mengobarkan semangat perjuangan merebut dan membela kemerdekaan bangsa. Dengan semangat dan bangga, kaum pesatren mengumandangkan jihad melawan penjajah dengan mengadakan banyak perlawanan dan juga pembangkangan. Beginilah cara jihad pesantren tempo dulu, penuh dengan rasa nasionalisme dan rasa kebangsaan yang dimanifestasikan dalam bentuk kekerasan maupun diplomasi melawan penjajah.
Memaknai Jihad
            Namun, sekarang realitas yang terjadi di masyarakat sangatlah berbeda dengan masa perjuangan dahulu. Pemaknaan jihad dulu dengan sekarang jangan sampai disamakan. Kita sekarang bukan lagi dalam keadaan perang dalam arti yang sesungguhnya. Sekarang musuh kita tidak lagi muncul dalam bentuk peluru, namun dalam bentuk teknologi, kebudayaan atau ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, ketika kita melawannya secara fisik maka tidak akan pernah bisa kita mengalahkan musuh-musuh Islam tersebut.
Sebagian kalangan memaknai jihad sebagai peperangan dengan jalan kekerasan, dari melukai hingga membunuh manusia-manusia non-muslim. Pergeseran makna jihad yang terjadi sebenarnya bukanlah hanya karena rasa fanatisme mereka terhadap Islam. Akan tetapi lebih karena kurangnya pemahaman tentang pemaknaan jihad yang strategis dan taktis dalam konteks kondisi sosial di Indonesia ini. Oleh karena itu, jihad yang dilakukan yang dengan cara kekerasan sangatlah tidak strategis. Perbuatan itu hanya akan menjadikan wajah Islam bopeng oleh ulah para pemeluknya.
Strategi Jihad Nasionalistik
  Indonesia yang gemah ripah loh jinawai ini memang ditakdirkan memiliki kemajemukan kadar tinggi. Jihad dalam bentuk keluwesan dan pendekatan diplomatik adalah hal yang paling mungkin untuk dilakukan. Karena tanpa keluwesan dan pendekatan diplomatic ini bangsa kita akan mudah terbelah, dan kita hanya akan menjadi bahan adu domba bangsa-bangsa lain. Selain itu, kekerasan juga hanya akan memberikan sensasi sesaat saja, dan setelah itu dampaknya akan berbuntut panjang karena wajah pesantren dan Islam telah tercoreng dengan kekerasan. Kekerasan dan perusakan tidak akan membangun akan tetapi lebih cenderung akan menjatuhkan.
Dengan demikian, langkah baiknya kita isi Negara yang telah damai ini dengan kegiatan yang benar-benar membangun. Baik itu untuk Islam dan juga untuk negeri. Yaitu dengan cara mengintegrasikan rasa Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim) dengan rasa Ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama warga Negara) untuk saling membangun.
Inilah yang disebut sebagai jihad dalam jalur sosio-kultural. Sebuah usaha dan perjuangan yang mengutamakan sikap dalam mengembangkan pandangan serta perangkat kultural. Langkah seperti ini akan lebih efektif ketika kita ingin melakukan perubahan struktur masyarakat dalam rencana jangka panjang. Dengan demikian, mudah bagi kita untuk memasukkan agenda-agenda Islam dalam agenda-agenda Negara.
Oleh karena itu, walaupun tidak pada semua kasus, terdang kita harus segera menggeser pemikiran Islam yang formalistik dan kaku ke arah pemikiran Islam yang adaptif. Karena pemikiran yang formalistik tidak akan banyak bermanfaat banyak bagi umat. Akan lebih relevan lagi bila kita memikirkan solusi atas permasalahan sosial mereka. Sebab, umat Islam sedang mengalami kemiskinan dan kelaparan. Mereka juga membutuhkan ajaran moral untuk menghadapi kenyataan hidup yang penuh depresi dan godaan duniawi ini. Dengan begitu, paradigma kita harus kita tujukan pada pemikiran Islam yang tertuju pada etika sosial, dan juga internalisasi Islam dalam kehidupan masyarakat.
Beginilah cara jihad nasionalistik pesantren seharusnya. Pesantren yang sangat mengerti tentang fiqh seharusnya juga mengerti apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh umat. Produk-produk hukum fiqh kita tidaklah boleh terlalu kaku dalam menghadapi realitas sosial. Selain itu, jangan sampai juga dalam keadaan yang sudah sangat berubah seperti sekarang ini, kita masih saja menggunakan produk-produk hukum yang sudah using, hal ini tentu membuat masyarakat kebingungan. Oleh karena itu, secara metodologis hal ini bisa dilakukan dengan mengintegrasikan hikmah hukum dalam illat hukum. Atau dengan kata lain sudah saatnya mengintegrasikan pola pemahaman qiyasi murni dengan pola pemahaman yang berorientasi pada maqosidus syariah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teman

Erdy : Si Briliant yang Pemalu Erdy Syifa’urrahman , ia terlahir di kota kecil yang damai dan tentram, Mojokerto. Sama seperti aku. tepatnya pada tanggal 7 februari 1992 ia telah menyuarakan tangisannya di dunia ini. Ia muslim yang taat. Semua orang tidak akan heran, karena memang dari kecil ia telah dididik dalam lingkungan pesantren. Mulai dari MI (Madrasah Ibtida’iyah) sampai MA (Madrasah Aliyah) ia sudah akrab dengan yang namanya kitab-kitab klasik ulama-ulama salaf . Dulu dia adalah teman sepondok, satu ruang kelas dan bahkan sekamar. Yang kukenal si Erdy ini, ilmu keagamaanya tak diragukan lagi. Keilmuannya dalam ilmu-ilmu social maupun eksakta pun sangatlah mumpuni. Terbukti ia sekarang menempuh studi di Universitas Gadjah Mada, di fakultas Psikologi dengan status penerima beasiswa penuh. Selama bergaul dengannya aku sudah sadar kalau dia memang akan selalu lebih cerdas dari aku, terlebih dia lebih telaten dan hati-hati dengan apa yang dia miliki. Nah, yang terakhir ini ...

Kisah Sukses Sido Muncul

Pendidikan tinggi dengan berbagai gelar memang tak menjadi jaminan bagi seseorang untuk menjadi manusia yang kaya raya. Hal ini telah dibuktikan oleh Irwan Hidayat direktur utama PT Sido Muncul. Pria yang dilahirkan dijogja ini mampu menjadikan pabrik jamunya menjadi pabrik jamu terbesar di Indonesia walaupun ia hanya lulusan SMA, dan itu pun setelah pindah sekolah sebanyak lima kali. Dia menyatakan bahwa dulunya ia adalah anak yang kurang berprestasi di sekolahnya. Dan ia juga bukan orang yang rapi dan mematuhi segala peraturan di sekolahnya. Bagaimana tidak wong buku saja cuma satu dan ulangan pun selalu ngerpek . Oleh karena itu, setelah ia lulus dari SMA ia sulit sekali mendapatkan pekerjaan. Pernah suatu ketika ia bekerja sebagai seles obat akan tetapi karena ia selalu bangun kesiangan pekerjaan itupun tidak bertahan lama. Setelah itu ia terpaksa bekerja di perusahaan jamu neneknya. Beberapa tahun berjalan akhirnya kursi kepemimpinan akhirnya di berikan kepada ibunya, Ibu Rahmat ...

This Is My Way : Berprestasi is the only choice

Seseorang tentu membutuhkan sebuah prestasi. Prestasi ini merupakan tingkatan ketiga dalam piramida kebutuhan Maslow. Aku tak mengerti kenapa sampai sekarang aku belum juga merasakan prestasi yang kuharapkan. Akan tetapi aku sadar bahwa sebenarnya yang kubutuhkan hanyalah motivasi lebih. Selama motivasi itu masih ada pada diriku, pasti aku bisa untuk mencapai segala yang aku inginkan.  Tahun demi tahun aku menjalani pendidikan dari mulai MI, MTs, MA, hingga sekarang kuliah. Prestasi yang kudapat cuman bisa dihitung oleh jari. Aku tak puas dengan itu. Seharusnya aku sebagai santri lebih berprestasi dari pada mereka yang bukan. Karena nilai-nilai agama ada dipundakku. Aku telah mendengan segala wejangan dari Rasulullah. Akan tetapi tetap saja aku belum mampu berprestasi. Mungkin satu yang aku butuhkan sekarang ini. Yaitu hasrat untuk menjadi juara. Tak hanya boleh puas dengan keadaan ku sekarang ini. Akhir-akhir ini aku merasa malu karena sudah beresikap layaknya anak kecil. Merengek...