Langsung ke konten utama

Komunikasi : Kajian Dari Teori ke Teori


            Pemaknaan dan pendefinisian tentang komunikasi pastinya akan memunculkan banyak perspektif. Oleh karena itu, teori-teori akan terus bermunculan namun teori yang sempurna dan komplit dalam menjelaskan komunikasi tidak akan pernah ada. Hal ini karena teori-teori komunikasi ini akan terus berkembang seiring dengan berubahnya realitas yang ada dalam kehidupan manusia dan juga alam. Teori-teori komunikasi akan saling melengkapi satu sama lain, sehingga teori-teori tersebut akan benar-benar dapat mewujudkan tujuan utama komunikasi kita, yaitu menyampaikan pesan dengan cara yang efektif.
            Ada banyak sekali teori-teori yang dihasilkan oleh para pakar tentang komunikasi. Perbedaan antara teori satu dengan teori yang lain adalah dalam hal perspektif. Ada teori komunikasi yang berasal dari perspektif filosofis, perspektif sosial-kultural atau bahkan dari perspektif matematis. Walaupun berasal dari berbagai perspektif yang berbeda namun kesemuanya memiliki suatu kesamaan prinsip dan tentu akan saling mengisi.
Model-model Teori
            Berawal dari 300 tahun sebelum masehi, teori tentang komunikasi telah ditelurkan oleh seorang filsuf yang terkenal yaitu Aristoteles. Aristoteles memberikan penjelasan mengenai komunikasi lisan yang terkenal dengan model komunikasi retorika. Ia membagi komunikasi dalam tiga unsur yaitu, pembicara, pesan dan pendengar. Dalam pembagian ini, menurut Aristoteles, pendengarlah yang paling penting karena ia adalah muara akhir dari suatu informasi yang ingin disampaikan. Oleh karena itu, berhasil tidaknya suatu komunikasi sangat tergantung terhadap seberapa faham para pendengar tehadap informasi yang disampaikan.       
Selanjutnya, dalam pendefinisian kata “komunikasi”. Carl Horland berpendapat bahwa pada dasarnya komunikasi adalah suatu proses pemberian stimulus (baik itu dalam bentuk verbal atau non verbal) untuk merubah perilaku orang lain. Pendefinisian seperti ini diambil dari realitas bahwa dalam melakukan penyuluhan misalnya, kita akan banyak membutuhkan komunikasi untuk mengubah perilaku dan juga mendiseminasikan suatu informasi. Pendefinisian seperti ini memang sedikit kurang tepat, dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak hanya menggunakan komunikasi untuk mengubah perilaku orang lain namun juga untuk keperluan yang lain.
Sedangkan teori-teori komunikasi modern, seperti Lasswell, Shannon and weaver, Schramm, Rileys, dan juga Berlo sedikit memiliki ciri yang berbeda. Teori-teori modern ini sudah memiliki perspektif yang lebih spesifik. Lasswell menyatakan bahwa komunikasi harus mengandung efek yang harus dicapai. Shannon dan Weaver menyatakan bahwa kebisingan Semantik dapat menjadi penghalang komunikasi utama. Schramm menyatakan bahwa kesamaan pengalaman dapat menjadi faktor dalam menghasilkan komunikasi yang efektif. Rileys menyatakan bahwa lingkungan sosial akan mempengaruhi bagaimana pesan dikirim dan diterima. Sedangkan Berlo menyatakan bahwa faktor penting yang harus dipertimbangkan berkaitan dengan komunikasi adalah sumber pesan ataupun informasi.
Teori Dalam Realitas
            Teori-teori yang telah disebutkan di atas adalah hasil tanggapan dari realitas yang ada di masyarakat dan teori-teori ini tentu akan kembali tergabung dalam implementasinya pada realitas yang ada. Hal ini dapat terjadi karena teori-teori tersebut memiliki satu tujuan yaitu mewujudkan komunikasi yang benar-benar efektif.
            Jika teori-teori tersebut diringkas menjadi satu kesatuan maka dapat diambil kesimpulan bahwa sebenarnya dalam menjalankan komunikasi yang baik haruslah kita memperhatikan pendengar yang menjadi sasaran komunikasi kita. Selanjutnya, harus juga terdapat efek yang dihasilkan dari komunikasi yang kita lakukan. Dan untuk menghasilkan efek tersebut kita harus memperhatikan aspek lingkungan sosial dan juga pengalaman dari sasaran penerima pesan, dengan begitu penerimaan akan mudah terjadi. Sedangkan untuk mendapatkan komunikasi yang baik sehingga memiliki efisiensi tinggi, maka besarnya kebisingan semantik haruslah ditekan. Dengan begitu maka komunikasi yang efektif akan bisa berjalan.
            Namun, komunikasi yang benar-benar efektif tidak akan selamanya timbul teori-teori tersebut. Masih harus banyak teori yang muncul untuk mengisi kekosongan ruang dalam menciptakan komunikasi yang efektif. Semuanya tergantung pada realitas yang ada dikehidupan kita. Dan jika teori-teori itu muncul maka hal itu akan sangat bagus, karena mereka akan kembali bergabung dalam satu kesatuan untuk menciptakan komunikasi yang lebih efektif sesuai dengan konteks dan realitas yang ada.
           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teman

Erdy : Si Briliant yang Pemalu Erdy Syifa’urrahman , ia terlahir di kota kecil yang damai dan tentram, Mojokerto. Sama seperti aku. tepatnya pada tanggal 7 februari 1992 ia telah menyuarakan tangisannya di dunia ini. Ia muslim yang taat. Semua orang tidak akan heran, karena memang dari kecil ia telah dididik dalam lingkungan pesantren. Mulai dari MI (Madrasah Ibtida’iyah) sampai MA (Madrasah Aliyah) ia sudah akrab dengan yang namanya kitab-kitab klasik ulama-ulama salaf . Dulu dia adalah teman sepondok, satu ruang kelas dan bahkan sekamar. Yang kukenal si Erdy ini, ilmu keagamaanya tak diragukan lagi. Keilmuannya dalam ilmu-ilmu social maupun eksakta pun sangatlah mumpuni. Terbukti ia sekarang menempuh studi di Universitas Gadjah Mada, di fakultas Psikologi dengan status penerima beasiswa penuh. Selama bergaul dengannya aku sudah sadar kalau dia memang akan selalu lebih cerdas dari aku, terlebih dia lebih telaten dan hati-hati dengan apa yang dia miliki. Nah, yang terakhir ini ...

Kisah Sukses Sido Muncul

Pendidikan tinggi dengan berbagai gelar memang tak menjadi jaminan bagi seseorang untuk menjadi manusia yang kaya raya. Hal ini telah dibuktikan oleh Irwan Hidayat direktur utama PT Sido Muncul. Pria yang dilahirkan dijogja ini mampu menjadikan pabrik jamunya menjadi pabrik jamu terbesar di Indonesia walaupun ia hanya lulusan SMA, dan itu pun setelah pindah sekolah sebanyak lima kali. Dia menyatakan bahwa dulunya ia adalah anak yang kurang berprestasi di sekolahnya. Dan ia juga bukan orang yang rapi dan mematuhi segala peraturan di sekolahnya. Bagaimana tidak wong buku saja cuma satu dan ulangan pun selalu ngerpek . Oleh karena itu, setelah ia lulus dari SMA ia sulit sekali mendapatkan pekerjaan. Pernah suatu ketika ia bekerja sebagai seles obat akan tetapi karena ia selalu bangun kesiangan pekerjaan itupun tidak bertahan lama. Setelah itu ia terpaksa bekerja di perusahaan jamu neneknya. Beberapa tahun berjalan akhirnya kursi kepemimpinan akhirnya di berikan kepada ibunya, Ibu Rahmat ...

This Is My Way : Berprestasi is the only choice

Seseorang tentu membutuhkan sebuah prestasi. Prestasi ini merupakan tingkatan ketiga dalam piramida kebutuhan Maslow. Aku tak mengerti kenapa sampai sekarang aku belum juga merasakan prestasi yang kuharapkan. Akan tetapi aku sadar bahwa sebenarnya yang kubutuhkan hanyalah motivasi lebih. Selama motivasi itu masih ada pada diriku, pasti aku bisa untuk mencapai segala yang aku inginkan.  Tahun demi tahun aku menjalani pendidikan dari mulai MI, MTs, MA, hingga sekarang kuliah. Prestasi yang kudapat cuman bisa dihitung oleh jari. Aku tak puas dengan itu. Seharusnya aku sebagai santri lebih berprestasi dari pada mereka yang bukan. Karena nilai-nilai agama ada dipundakku. Aku telah mendengan segala wejangan dari Rasulullah. Akan tetapi tetap saja aku belum mampu berprestasi. Mungkin satu yang aku butuhkan sekarang ini. Yaitu hasrat untuk menjadi juara. Tak hanya boleh puas dengan keadaan ku sekarang ini. Akhir-akhir ini aku merasa malu karena sudah beresikap layaknya anak kecil. Merengek...